Pemkab Mabar dan Mitra Pembangunan Perkuat Pengelolaan Sampah Pariwisata

Pemkab Mabar dan Mitra Pembangunan Perkuat Pengelolaan Sampah Pariwisata
Pemkab Mabar dan Mitra Pembangunan Perkuat Pengelolaan Sampah Pariwisata

Bappeda Mabar – Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menggelar Pelatihan Pengelolaan Sampah bagi Operator Kapal Wisata dan Pengelola Hotel pada hari ini, Selasa (23/6). Kegiatan yang diinisiasi oleh INFLORES (Investing in the Komodo Dragon and Other Globally Threatened Species in Flores) ini dilaksanakan di Politeknik elBajo Commodus, Labuan Bajo.

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, antara lain Bappeda, Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan, WRI Indonesia, Indonesia Waste Platform, Politeknik elBajo Commodus, INFLORES, UNDP, pelaku usaha pariwisata, operator kapal wisata, pengelola hotel, komunitas muda, serta mitra pembangunan lainnya.

Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas para pelaku pariwisata dalam mengelola sampah dan sisa pangan (food waste) secara berkelanjutan guna menjaga kelestarian lingkungan serta mendukung terwujudnya pariwisata berkelanjutan di Labuan Bajo.

Sekretaris Bappeda Kabupaten Manggarai Barat, Martha Alfanita, saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa pengelolaan sampah menjadi bagian penting dalam mewujudkan misi pembangunan daerah, khususnya pariwisata berkelanjutan.

“Destinasi wisata tidak hanya menjual pesona alam, tetapi juga komitmen nyata dalam menjaga lingkungan. Oleh karena itu, pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa timbulan food waste di Manggarai Barat mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu 4.836 ton per tahun. Sektor Non Rumah Tangga yang meliputi hotel, restoran & kafe, pasar, dan kapal wisata menyumbang sebanyak 51,5% timbulan food waste.

Pemkab Manggarai Barat sendiri sudah memiliki dokumen Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota (SSK) yang memuat tentang sanitasi dan persampahan. Menurutnya, keterbatasan infrastruktur pengelolaan sampah masih menjadi tantangan yang perlu diatasi secara kolaboratif. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan kinerja pengelolaan sampah sebagai salah satu indikator pembangunan daerah. Saat ini, Indeks Pengelolaan Sampah Kabupaten Manggarai Barat berada pada angka 26,1 dan ditargetkan meningkat menjadi 38 pada tahun 2030.

Lebih lanjut, Martha juga mengajak seluruh pelaku pariwisata untuk mengimplementasikan prinsip ekonomi sirkuler melalui pendekatan Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Khusus bagi operator kapal wisata, ia mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi guna mencegah pencemaran di kawasan Taman Nasional Komodo. Operator kapal diminta melakukan pemilahan sampah sejak di atas kapal, menyimpan sampah dengan baik, serta melakukan pencatatan timbulan sampah secara rutin sebagai bagian dari tata kelola lingkungan yang bertanggung jawab.

Sementara itu, perwakilan dari INFLORES, Imanuddin Utoro, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proyek yang didukung pendanaan Global Environment Facility (GEF) dan United Nations Development Programme (UNDP) yang bertujuan untuk mendukung konservasi Komodo dan berbagai spesies endemik Flores yang terancam punah, seperti kakatua dan elang Flores.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan upaya konservasi sangat bergantung pada tata kelola pariwisata yang baik. Pertumbuhan sektor pariwisata yang tidak terkendali berpotensi memberikan dampak serius terhadap lingkungan, terutama melalui peningkatan timbulan sampah dari hotel, kapal wisata maupun aktivitas masyarakat yang berakhir di laut.

“Ancaman terbesar terhadap kawasan konservasi justru berasal dari aktivitas pariwisata,” tegasnya.

Menurutnya, sektor pariwisata tidak akan dapat berkembang secara optimal tanpa didukung sistem pengelolaan sampah yang memadai. Oleh sebab itu, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, lembaga pendidikan, dan mitra pembangunan menjadi kunci dalam mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Saya benar-benar berharap kita bisa bekerja sama membangun ekosistem hijau dan mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan,” tutupnya.

Melalui pelatihan ini, peserta memperoleh berbagai materi terkait kondisi persampahan di Labuan Bajo, pengelolaan food waste, prinsip ekonomi sirkuler, isu sampah laut, digitalisasi pengelolaan sampah, hingga penyusunan standar operasional prosedur (SOP) pengelolaan sampah bagi hotel dan kapal wisata.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat berharap kegiatan ini dapat memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kelestarian alam Labuan Bajo sehingga tetap menjadi destinasi wisata unggulan yang bersih, lestari, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.