FGD Antara IPI: Bukan Sekedar Indeks

FGD Antara IPI: Bukan Sekedar Indeks
FGD Antara IPI: Bukan Sekedar Indeks

Dalam rangka penyempurnaan Penyusunan Dokumen Kajian Pengukuran Indeks Pariwisata Inklusif (IPI), Kabupaten Manggarai Barat melaksanakan kegiatan Forum Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan pada hari Jumat (7/11). Kegiatan yang merupakan kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dengan Politeknik eLBajo Commodus Labuan Bajo  dilaksanakan di Ruang Rapat Politeknik eLBajo Commodus Labuan Bajo.

Sebelumnya telah dilaksanakan FGD Awal pada bulan September yang membahas tentang pentingnya dilakukan kajian IPI di Manggarai Barat. Dalam FGD Antara, tujuan utamanya adalah untuk melakukan validasi terhadap temuan-temuan data yang sudah diolah oleh tim pengkaji yang berasal dari Politeknik eLBajo Commodus Labuan Bajo. Temuan-temuan data ini nantinya akan direview oleh pemangku kebijakan agar sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

Dalam sambutannya, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA), Tarsisius Gonza, menjelaskan bahwa, “Tujuan akhir FGD ini bukan hanya indeks, tetapi juga narasi di balik indeks tersebut.”

Ia juga kembali menekankan pentingnya kajian ini untuk melihat sejauh mana pengaruh pariwisata terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, serta sejauh mana keterlibatan dan peran masyarakat di dalam pariwisata daerah. “Jangan sampai kita hanya memberi ruang kepada orang luar, kita juga harus ada afirmasi kepada masyarakat lokal,” lanjutnya.

Senada dengan hal tersebut, Laurensius Nabu selaku Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Manggarai Barat juga menyampaikan bahwa, “Pariwisata hendaknya dapat menyentuh semua pihak, baik wisatawan maupun masyarakat lokal.”

Ia juga menyampaikan harapannya agar pariwisata Kabupaten Manggarai Barat menjadi pariwisata yang inklusif dengan keterlibatan seluruh sektor yang masuk ke dalam bagian partisipasi publik. Oleh karena itu, FGD Antara ini digunakan untuk memberikan masukan yang positif agar kajian ini bisa dipertanggungjawabkan dengan baik dan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. “Saya berharap dalam rangka penyempurnaan kajian ini tidak ada dikotomi antara peserta dengan pengkaji, karena hasil kajian ini nantinya akan lebih banyak dieksekusi oleh OPD terkait,” ujarnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan laporan hasil penelitian oleh tim pengkaji. Telah dilakukan penelitian terhadap 8 objek, yaitu: Destinasi Darat, Destinasi Laut, Hotel, Kafe/Restoran, Travel Agent, Bank/Money Changer, Pasar, dan Fasilitas Kesehatan. Dari 8 objek tersebut, Destinasi Darat mendapatkan skor sementara tertinggi, yaitu 10,57 dengan aspek penilaian yang meliputi: Infrastruktur Keras, Infrastruktur Lunak, Aspek Ekonomi, Aspek Sosial Budaya, dan Aspek Lingkungan.

Diskusi dilaksanakan setelah pemaparan laporan oleh tim pengkaji. Dalam diskusi ini, para pemangku kebijakan selaku peserta diskusi menyampaikan pertanyaan, kritik, dan masukan kepada tim pengkaji.

Sebagai penutup kegiatan diskusi, Kepala BRIDA menyampaikan harapannya agar kegiatan diskusi ini tidak hanya berakhir di dalam forum. “Saya berharap kita juga masih bisa berdiskusi di luar forum, agar pariwisata kita akan lebih baik kedepannya,” tutupnya mengakhiri kegiatan.