Bappeda Mabar — Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Koperasi dan UMKM melaksanakan Forum Group Discussion (FGD) bersama Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka pemaparan hasil penelitian TEP Unpad di dua kawasan transmigrasi Manggarai Barat, yaitu UPT Nggorang dan UPT Longge. Dalam pemaparan ini, TEP Unpad memetakan potensi lokal, tantangan lapangan, serta merumuskan rekomendasi pengembangan wilayah yang sejalan dengan arah kebijakan daerah dan nasional.
Kegiatan ini diawali dengan pemaparan temuan lapangan di UPT Nggorang. Wilayah yang berada di jalur utama menuju destinasi wisata Golo Mori ini dinilai memiliki potensi besar sebagai zona penyangga pariwisata. Namun sejumlah isu strategis masih perlu ditangani, seperti tumpang tindih lahan HPL dengan lahan warga serta belum optimalnya atraksi dan produk lokal.
Untuk itu, TEP Unpad mengusulkan pendirian Blue School sebagai pusat pelatihan vokasi pariwisata, termasuk pelatihan dive guide, pemandu wisata, hingga pengelolaan usaha perjalanan. Selain itu, pengembangan kuliner berbasis kacang mete juga direkomendasikan sebagai produk unggulan yang dapat memperkuat identitas lokal.
Pada sektor pertanian, tim menekankan perlunya penerapan smart farming di lahan kering, penggunaan varietas adaptif, hingga pembangunan embung dan fasilitas pengering modern seperti solar dryer dome. Di sektor peternakan, pembangunan Rumah Potong Hewan (RPH), pasar ternak hidup, serta sistem cold chain dinilai mendesak untuk mendorong kualitas produk dan memperkuat rantai pasok pangan daerah.
Sementara itu, temuan lapangan di UPT Longge mengungkap kondisi depopulasi yang cukup serius. Dari 120 Kepala Keluarga (KK), kini hanya 21 KK yang menetap akibat keterbatasan akses infrastruktur dasar. Masyarakat memilih meninggalkan lokasi karena ketiadaan akses listrik, jalan, dan pasar. Sedangkan kawasan ini memiliki potensi komoditas bernilai ekonomi, seperti kemiri, kakao, dan porang.
Hilirisasi komoditas menjadi fokus utama rekomendasi, termasuk pengadaan mesin pemecah kemiri, mesin perajang porang, pembangunan solar dryer dome, dan gudang komunitas. Hal ini dilakukan agar masyarakat tidak lagi mengirimkan komoditas dalam bentuk mentah, tetapi dalam bentuk yang sudah diolah. Seperti pengolahan porang basah menjadi bentuk chips, dan gelondongan kemiri menjadi whole kernel atau inti yang utuh. Hal tersebut akan meningkatkan nilai ekonomi dan memangkas biaya pengiriman.
Dalam sesi diskusi lintas OPD, berbagai dinas menyampaikan pandangan mereka terhadap hasil temuan TEP Unpad. Diantaranya adalah Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan (DTPHP) dan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) yang menegaskan keselarasan program pascapanen dan penguatan produksi.
Setelah pemaparan penelitian, TEP Unpad juga menunjukkan dukungannya terhadap pengembangan kawasan transmigrasi Manggarai Barat, yaitu pembelajaran jarak jauh di Blue School, hingga beasiswa afirmasi bagi calon mahasiswa dari wilayah 3T di Kabupaten Manggarai Barat.
Melalui rangkaian kunjungan dan diskusi ini, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat berharap rekomendasi yang muncul dapat menjadi pijakan untuk mempercepat pengembangan kawasan transmigrasi sebagai penopang ketahanan pangan, pusat agroindustri, dan bagian integral dari ekosistem pariwisata daerah.

