FGD Penyelamatan Pangan: Langkah Strategis Kurangi Food Waste

FGD Penyelamatan Pangan: Langkah Strategis Kurangi Food Waste
FGD Penyelamatan Pangan: Langkah Strategis Kurangi Food Waste

Bappeda Mabar – Setelah melaksanakan Seminar Penyelamatan Pangan sehari sebelumnya, Konsorsium Pangan Bernas mengadakan kegiatan lanjutan berupa Forum Group Discussion (FGD) Penyelamatan Pangan di Kabupaten Manggarai Barat pada Kamis (4/6). Kegiatan ini bertujuan untuk menghimpun masukan, pengalaman, serta rekomendasi dari berbagai pemangku kepentingan guna merumuskan langkah strategis dalam upaya penyelamatan pangan di Kabupaten Manggarai Barat.

Dengan tema “Penguatan Kolaborasi Multipihak untuk Penyelamatan Pangan di Kabupaten Manggarai Barat”, FGD ini dihadiri oleh perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), orang muda Manggarai Barat, serta mitra pembangunan yang berkontribusi dalam isu ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan.

Kegiatan ini resmi dibuka oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Yohanes Hani, di Ruang Horizon Hotel Zasgo Labuan Bajo. Dalam sambutannya, Yohanes menekankan kembali pentingnya komitmen dari seluruh peserta FGD serta langkah kecil sebagai awal dari pergerakan. “Hasil yang besar itu tetap dimulai dari langkah yang kecil,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan harapannya kepada seluruh anak muda yang hadir di dalam forum agar berperan aktif dalam upaya mengurangi pemborosan pangan dan membangun budaya konsumsi yang lebih bertanggungjawab. “Mabar menanti kita semua, Mabar menanti hasilnya,” tutupnya.

FGD ini merupakan tindak lanjut dari Seminar Penyelamatan Pangan yang dilaksanakan pada 3 Juni 2026. Pada seminar tersebut terungkap bahwa timbulan food waste di Labuan Bajo mencapai sekitar 4.836 ton per tahun dengan estimasi kerugian ekonomi sebesar Rp61 miliar hingga Rp95 miliar per tahun, atau setara dengan 1,4–2,2 persen dari PDRB Kabupaten Manggarai Barat. Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pemborosan pangan tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap efisiensi ekonomi daerah.

Dalam sesi pengantar diskusi, M. Alviano Latubatara selaku Sekretaris Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memaparkan poin-poin penting yang akan dibahas di dalam FGD. Pertama, tiga konsep penyelamatan pangan yang terdiri dari pengelolaan sisa makanan yang masih layak konsumsi, upaya penguatan pemanfaatan  pangan lokal agar “naik kelas”, dan pengelolaan sisa pangan agar bermanfaat bagi lingkungan. Kedua, tindak lanjut pembahasan saat seminar yang meliputi proses pengumpulan pangan, penanggung jawab kegiatan, keterlibatan volunteer, hingga mekanisme penyaluran kepada penerima manfaat.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dimana para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan merumuskan peran masing-masing di dalam aksi penyelamatan pangan. Berbagai masukan telah disampaikan di dalam forum adalah penyusunan regulasi daerah yang mendukung penyelamatan pangan, pengembangan aplikasi dan platform digital yang memfasilitasi pendataan sisa pangan, serta penetapan sasaran penerima manfaat yang tepat dan berkelanjutan.

Melalui FGD ini, para peserta menyepakati tanggung jawab atas perannya masing-masing dengan merumuskan tindak lanjut dan kerangka kegiatan. Untuk menutup kegiatan, Alviano mengajak seluruh peserta untuk membangun pola pikir yang lebih progresif dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan daerah. “Kita ini tinggal di daerah premium, maka cara pikir kita juga harus premium,” tutupnya mengakhiri kegiatan.

Melalui FGD ini, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat bersama para pemangku kepentingan berkomitmen untuk memperkuat gerakan penyelamatan pangan sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan, mengurangi limbah makanan, meningkatkan efisiensi ekonomi, serta menjaga keberlanjutan lingkungan di Kabupaten Manggarai Barat.