Bappeda Mabar – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Manggarai Barat bersama Universitas Trisakti melaksanakan kegiatan audiensi dan gap assessment terkait penerapan Global Sustainable Tourism Council Destination Standard (GSTC-D) di wilayah Manggarai Barat, Rabu (22/04).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Bappeda Kabupaten Manggarai Barat tersebut dihadiri oleh pimpinan Perangkat Daerah (PD) dan instansi terkait. Pelaksanaan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mendorong pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan dan berstandar internasional.
Kepala Bappeda Manggarai Barat, Petrus Antonius Rasyid, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara kondisi eksisting dengan standar GSTC-D. Hasil dari gap assessment ini selanjutnya akan menjadi dasar dalam perumusan kebijakan dan strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan di Manggarai Barat.
Dalam pemaparan materi, Maria Ariestha Utha selaku Direktur CECT Sustainability Universitas Trisakti menyampaikan bahwa GSTC-D menitikberatkan pada pengelolaan destinasi dari perspektif pemerintah dengan mengacu pada empat pilar utama, yaitu pengelolaan berkelanjutan, keberlanjutan sosial-ekonomi, pelestarian budaya, dan keberlanjutan lingkungan. Untuk mendukung proses penilaian tersebut, diperlukan pemenuhan 147 indikator yang akan didistribusikan kepada masing-masing OPD sebagai bahan evaluasi.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa kegiatan ini tidak bersifat audit, melainkan sebagai upaya identifikasi kesenjangan, analisis isu dan risiko, serta penyusunan rekomendasi perbaikan dalam rangka peningkatan kualitas pengelolaan destinasi pariwisata. “Harapan kami bisa mengidentifikasi gap, menganalisis isu risiko, sehingga kami bisa memberikan rekomendasi untuk improvement,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, sejumlah perangkat daerah menyampaikan berbagai masukan dan isu strategis. Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat mengungkapkan bahwa pengembangan destinasi wisata di luar kawasan Taman Nasional Komodo masih menghadapi keterbatasan, khususnya pada aspek sarana dan prasarana. Upaya pengembangan desa wisata terus dilakukan, antara lain melalui program FASMADEWI yang telah mendorong peningkatan kunjungan wisatawan di beberapa lokasi seperti Wae Lolos dan Rangko.
Sebagai penutup, Kepala Bappeda menyampaikan terima kasih atas pelaksanaan assesment di Kabupaten Manggarai Barat. Ia juga berharap melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menegaskan komitmennya dalam mewujudkan tata kelola destinasi pariwisata yang berkelanjutan, terintegrasi, dan berdaya saing.
